<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Mahasiswa Untuk Bangsa &#187; sosial</title>
	<atom:link href="http://adeputrawinata.wordpress.com/tag/sosial/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://adeputrawinata.wordpress.com</link>
	<description>Kritis,Dinamis, demi kemajuan bangsa</description>
	<lastBuildDate>Sun, 20 Apr 2008 08:40:08 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='adeputrawinata.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/0bc50491612669f86500a9698bde23ce?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Mahasiswa Untuk Bangsa &#187; sosial</title>
		<link>http://adeputrawinata.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://adeputrawinata.wordpress.com/osd.xml" title="Mahasiswa Untuk Bangsa" />
		<item>
		<title>Ajaran Ahmadiyah,Sesat gak Sih??</title>
		<link>http://adeputrawinata.wordpress.com/2008/04/17/ajaran-ahmadiyahsesat-gak-sih/</link>
		<comments>http://adeputrawinata.wordpress.com/2008/04/17/ajaran-ahmadiyahsesat-gak-sih/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Apr 2008 09:29:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mahasiswa Untuk bangsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik dan sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[aliran]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kafir]]></category>
		<category><![CDATA[sesat]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adeputrawinata.wordpress.com/2008/04/17/ajaran-ahmadiyahsesat-gak-sih/</guid>
		<description><![CDATA[Baru aja baca koran Republika hari ini di Headline nya berita tentang Ahamdiyah,,,, kok bisa yah Ahmadiyah sesat emang ajaran Ahmadiyah gimana sih?

Oh ternyata ada beberapa ajaran Ahmadiyah yang nyelene dari ajaran islam data nya saya ambil dari sini
1.Aliran Ahmadiyah-Qadiyani itu berkeyakinan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi dan Rasul, kemudian barangsiapa yang tidak mempercayainya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adeputrawinata.wordpress.com&blog=3242259&post=18&subd=adeputrawinata&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Baru aja baca koran Republika hari ini di Headline nya berita tentang Ahamdiyah,,,, kok bisa yah Ahmadiyah sesat emang ajaran Ahmadiyah gimana sih?</p>
<p><img src="http://www.geocities.com/kebohongan/mirza3.GIF" alt="" width="242" height="306" /></p>
<p>Oh ternyata ada beberapa ajaran Ahmadiyah yang nyelene dari ajaran islam data nya saya ambil dari <a title="disini" href="http://www.perpustakaan-islam.com/mod.php?mod=publisher&amp;op=viewarticle&amp;artid=74">sini</a></p>
<p>1.Aliran Ahmadiyah-Qadiyani itu berkeyakinan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi dan Rasul, kemudian barangsiapa yang tidak mempercayainya adalah kafir murtad<span id="more-18"></span></p>
<p>2.Ahmadiyah-Qadiyani memang mempunyai Nabi dan Rasul sendiri yaitu Mirza Ghulam Ahmad dari India</p>
<p>3.Ahmadiyah-Qadiyan mempunyai kitab suci sendiri yaitu kitab suci Tadzkirah</p>
<p>4.Kitab suci”Tadzkirah” tersebut adalah kumpulan wahyu yang diturunkan “tuhan” kepada Mirza Ghulam Ahmad yang kesuciannya sama dengan kitab suci Al-Qur’an, karena sama-sama wahyu dari Tuhan, tebalnya lebih tebal dari Al-Qur’an, dan kitab suci Ahmadiyah tersebut ada di kantor LPPI</p>
<p>5.Kalangan Ahmadiyah mempunyai tempat suci tersendiri untuk melakukan ibadah haji yaitu Rabwah dan Qadiyan di India. Mereka mengatakan: “Alangkah celakanya orang yang telah melarang dirinya bersenang-senang dalam haji akbar ke Qadiyan. Haji ke Makkah tanpa haji ke Qadiyan adalah haji yang kering lagi kasar”. Dan selama hidupnya “nabi” Mirza tidak pernah haji ke Makkah</p>
<p>6.Kalau dalam keyakinan umat Islam para nabi dan rasul yang wajib dipercayai hanya 25 orang, dalam ajaran Ahmadiyah Nabi dan Rasul yang wajib dipercayai harus 26 orang, dan Nabi dan Rasul yang ke-26 tersebut adalah “Nabi Mirza Ghulam Ahmad”</p>
<p>7.Dalam ajaran Islam, kitab samawi yang dipercayai ada 4 buah yaitu: Zabur, Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Tetapi bagi ajaran Ahmadiyah Qadiyan bahwa kitab suci yang wajib dipercayai harus 5 buah dan kitab suci yang ke-5 adalah kitab suci “Tadzkirah” yang diturunkan kepada “Nabi Mirza Ghulam Ahmad”</p>
<p>8.Orang Ahmadiyah mempunyai perhitungan tanggal, bulan dan tahun sendiri. Nama bulan Ahmadiyah adalah: 1. Suluh 2. Tabligh 3. Aman 4. Syahadah 5. Hijrah 6. Ihsan 7. Wafa 8. Zuhur 9. Tabuk 10. Ikha’ 11. Nubuwah 12. Fatah. Sedang tahunnya adalah Hijri Syamsi yang biasa mereka singkat dengan H.S. Dan tahun Ahmadiyah saat ini adalah tahun 1373 H.S (1994 M atau 1414 H). Kewajiban menggunakan tanggal, bulan dan tahun Ahmadiyah tersendiri tersebut di atas perintah khalifah Ahmadiyah yang kedua yaitu Basyiruddin Mahmud Ahmad</p>
<p>9.Berdasarkan firman “tuhan” yang diterima oleh “nabi” dan “rasul” Ahmadiyah yang terdapat dalam kitab suci “Tadzkirah” yang artinya: “Dialah tuhan yang mengutus rasulnya “Mirza Ghulam Ahmad” dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya atas segala agama-agama semuanya.(“kitab suci Tadzkirah” hal. 621)</p>
<p>Berdasarkan keterangan yang ada dalam kitab suci Ahmadiyah di atas BAHWA AHMADIYAH BUKAN SUATU ALIRAN DALAM ISLAM, TETAPI MERUPAKAN SUATU AGAMA YANG HARUS DIMENANGKAN TERHADAP SEMUA AGAMA-AGAMA LAINNYA TERMASUK AGAMA ISLAM</p>
<p>10.Ahmadiyah mempunyai nabi dan rasul sendiri, kitab suci sendiri, tanggal, bulan dan tahun sendiri, tempat untuk haji sendiri serta khalifah sendiri yang sekarang khalifah yang ke-4 yang bermarkas di Inggris bernama: Thahir Ahmad. Semua anggota Ahmafiyah di seluruh dunia wajib tunduk dan taat tanpa reserve pada perintah dia. Orang di luar Ahmadiyah adalah kafir dan wanita Ahmadiyah haram kawin dengan laki-laki di luar Ahmadiyah. Jika tidak mau menerima Ahmadiyah tentu mengalami kehancuran</p>
<p>11.Berdasarkan “ayat” kitab suci Ahmadiyah “Tadzkirah” bahwa tugas dan fungsi Nabi Muhammad saw sebagai nabi dan rasul yang dijelaskan oleh kitab suci umat Islam Al-Qur’an, dibatalkan dan diganti oleh “nabi” orang Ahmadiyah Mirza Ghulam Ahmad</p>
<p>11.1. Firman “tuhan” dalam “kitab suci” Tadzkirah:<br />
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab suci’Tadzkirah” ini dekat dengan Qadiyan-India. Dan dengan kebenaran Kami menurunkannya dan dengan kebenaran dia turun.” (“kitab suci” Tadzkirah hal.637)</p>
<p>11.2. Firman “tuhan” dalam “kitab suci” Tadzkirah:<br />
Artinya: ”Katakanlah-wahai Mirza Ghulam Ahmad-jika kamu benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku”<br />
(“kitab suci” Tadzkirah hal. 630)</p>
<p>11.3.Firman “tuhan” dalam “kitab suci” Tadzkirah<br />
Artinya: “Dan Kami tidak mengutus engkau-wahai Mirza Ghulam Ahmad-kecuali untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam”. (kitab suci “Tadzkirah” hal. 634)</p>
<p>11.4. Firman “tuhan” dalam kitab suci “Tadzkirah”:<br />
Artinya: “Katakan wahai Mirza Ghulam Ahmad-sesungguhnya aku ini manusia biasa seperi kamu, hanya diberi wahyu kepadaku”.(“kitab suci Tadzkirah hal. 633)</p>
<p>11.5. Firman “tuhan” dalam “kitab suci” Tadzkirah:<br />
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu &#8211; wahai Mirza Ghulam Ahmad &#8211; kebaikan yang banyak” (“kitab suci” Tadzkirah hal.652)</p>
<p>11.6. Firman “tuhan” dalam “kitab suci” Tadzkirah:<br />
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menjadikan engkau &#8211; wahai Mirza Ghulam Ahmad &#8211; imam bagi seluruh manusia” (“kitab suci” Tadzkirah hal. 630)</p>
<p>11.7. Firman “tuhan” dalam “kitab suci” “Tadzkirah”:<br />
Artinya: “Oh, pemimpin sempurna, engkau &#8211; wahai Mirza Ghulam Ahmad &#8211; seorang dari rasul, yang menempuh jalan betul, diutus oleh Yang Maha Kuasa, Yang Rahim” (“kitab suci” Tadzkirah hal. 658-659)</p>
<p>11.8. Firman “tuhan” dalam “kitab suci” Tadzkirah:<br />
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam lailatul qadr” (kitab suci Tadzkirah hal. 519)</p>
<p>11.9. Firman “tuhan” dalam “kitab suci” Tadzkirah:<br />
Artinya: “Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar tetapi Allah-lah yang melempar. (Tuhan) Yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan Al-Qur’an” (“kitab suci” Tadzkirah hal.620)</p>
<p>kalau menurut temen-temen apakah Ahmadiyah ini sesat atau tidak???</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/adeputrawinata.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/adeputrawinata.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adeputrawinata.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adeputrawinata.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adeputrawinata.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adeputrawinata.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adeputrawinata.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adeputrawinata.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adeputrawinata.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adeputrawinata.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adeputrawinata.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adeputrawinata.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adeputrawinata.wordpress.com&blog=3242259&post=18&subd=adeputrawinata&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adeputrawinata.wordpress.com/2008/04/17/ajaran-ahmadiyahsesat-gak-sih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>87</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/80bd13d034d160365860c9293e8578f9?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Mahasiswa Untuk bangsa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.geocities.com/kebohongan/mirza3.GIF" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Jangan Fitnah buya hamka</title>
		<link>http://adeputrawinata.wordpress.com/2008/04/10/jangan-fitnah-buya-hamka/</link>
		<comments>http://adeputrawinata.wordpress.com/2008/04/10/jangan-fitnah-buya-hamka/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Apr 2008 15:53:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mahasiswa Untuk bangsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik dan sosial]]></category>
		<category><![CDATA[fitna]]></category>
		<category><![CDATA[hamka]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adeputrawinata.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Minggu, 30 Desember 2007 
Beberapa peneliti Paramadina melakukan fitnah terhadap Buya HAMKA. Padahal, karyanya tak seberapa dibanding HAMKA. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian ke-219
 
Oleh: Adian Husaini (Ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia)

 
Pekan lalu, sebuah berita gembira saya terima. Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Jakarta telah mendirikan sebuah pusat studi bernama ”Pusat Kajian Buya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adeputrawinata.wordpress.com&blog=3242259&post=10&subd=adeputrawinata&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;">Minggu, 30 Desember 2007<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;">Beberapa peneliti Paramadina melakukan fitnah terhadap Buya HAMKA. Padahal, karyanya tak seberapa dibanding HAMKA. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian ke-219</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;">Oleh: Adian Husaini (Ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia)<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;">Pekan lalu, sebuah berita gembira saya terima. Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Jakarta telah mendirikan sebuah pusat studi bernama ”Pusat Kajian Buya Hamka” (PKBH). Dalam rangka menyongsong peringatan 100 tahun Hamka, yang akan jatuh pada 17 Februari 2008, PKBH akan menerbitkan sebuah buku berjudul ”Mengenang 100 Tahun Buya Hamka”. <span id="more-10"></span>Saya diminta berpartisipasi untuk menulis satu artikel dalam buku tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;">Bagi kita, nama Hamka tidaklah asing. Dalam beberapa kali catatan, kita mengulas atau mengutip pendapat-pendapat Hamka. Semasa hidupnya, Hamka telah menulis sekitar 118 karya dalam berbagai bidang, baik sastra, sejarah, tasauf, etika, tafsir, dan sebagainya. Karya besarnya adalah Tafsir al-Azhar, yang ditulisnya semasa dalam tahanan rezim Orde Lama. Atas karya-karyanya, Hamka diangkat sebagai guru besar bidang tasauf di PTAIN Yogyakarta (1958), mendapat gelar Dr. HC bidang agama dari Universitas Al-Azhar Mesir (1958) dan bidang sastra dari Universitas Kebangsaan Malaysia.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;">Berbagai kalangan diminta menyumbangkan tulisannya untuk buku Mengenang 100 Tahun Buya Hamka. Diantaranya, Prof. Dr. A. Malik Fadjar, Ali Sadikin, Prof. KH Ali Yafie, Prof. Dr. Amin Rais, Prof. Dr. Azyumardi Azra, Emha Ainun Najib, Harmoko (mantan Menteri era Orde Baru), KH Hasyim Muzadi, Prof. Dr. Din Syamsuddin, Dr. M. Syafii Anwar, Henny Purwonegoro, Mieke Widjaya, dan banyak lagi yang lainnya. Jumlahnya sekitar 100 orang. Dengan penulisan buku seperti ini, barangkali panitia mengharapkan, akan tergambar sosok Hamka yang ketokohannya diakui oleh berbagai kalangan masyarakat dengan corak serta aliran pemikiran.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;">Harapan kita, mudah-mudahan buku itu nantinya akan memberikan gambaran yang benar terhadap sosok Hamka dan pemikirannya. Jangan sampai, sosok dan pemikiran Hamka dipersepsikan dengan keliru, sehingga menjadi fitnah bagi Hamka. Kita pernah membahas, bagaimana seorang doktor penyebar paham Pluralis Agama di Indonesia, dengan gegabah mengutip Tafsir al-Manar, dan menyebut Rasyid Ridha sebagai pendukung paham Pluralisme Agama. Meskipun sudah kita koreksi dan kita tunjukkan kekeliruannya, sang doktor itu enggan mengoreksi bukunya. Ilmuwan-ilmuwan model seperti ini, meskipun dikenal cerdik, sulit dipercaya lagi kejujurannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;">Kita juga pernah membahas, ada sejumlah penulis yang keliru – entah sengaja atau tidak &#8212; dalam mengungkapkan pemikiran Hamka. Bahkan, ada yang sengaja memanipulasi pendapat Hamka, sehingga, seolah-olah Hamka adalah seorang pendukung paham Pluralisme Agama. Sebagai contoh, sebuah buku yang belum lama ini diterbitkan oleh Universitas Paramadina berjudul ”Bayang-bayang Fanatisisme: Esei-esei untuk Mengenang Nurcholish Madjid, (2007). Buku ini diberi kata pengantar oleh Dawam Rahardjo, dengan editor Abd. Hakim dan Yudi Latif.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;">Seperti sejumlah buku terbitan Paramadina lainnya, buku berupa kumpulan tulisan berbagai penulis ini juga secara besar-besaran mempromosikan paham Pluralisme Agama. Sebagai misal, dalam artikelnya yang berjudul Mengapa Membumikan Kemajemukan dan Kebebasan Beragama di Indonesia?, Muhammad Ali, dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Jakarta, menulis:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;">”Al-Qur’an juga menjelaskan dalam banyak ayat-ayatnya adanya persaudaraan hanafiyyah samhah dan persaudaraan kemanusiaan. Dalam konsep al-Qur’an, penganut agama Yahudi, Kristen, dan Islam adalah saudara seiman dan sebapak, Ibrahim, meskipun mereka saling berselisih dalam sejarahnya. Agama-agama mereka adalah satu dan berasal dari satu Tuhan. Lebih luas lagi bahkan, selain Yahudi dan Kristen, Islam juga bersaudara dengan seluruh penganut keberagamaan yang benar, yang tidak sombong dan tidak berbuat kerusakan. Tuhan menurunkan ratusan ribu nabi-nabi dan rasul-rasul yang tidak diceritakan siapa mereka. Karenanya tidak ada alasan untuk mengafirkan dan mengutuk masuk neraka Konfusianisme, Buddha, Mirza Ghulam Ahmad, dan penganut-penganut keyakinan lainnya. Apalagi al-Quran juga menjelaskan, tidak ada perbedaan antar para nabi dan perbedaan dan perselisihan antar-umat beragama harus diserahkan kepada Tuhan saja.” (hal. 256).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;">Kita tentu sulit memahami, apa sebenarnya isi kepala dosen ushuluddin UIN Jakarta yang sedang mengambil doktor di Hawai, USA, ini. Kaca mata apa dan konsep apa yang dipakai untuk membaca ayat-ayat al-Quran. Padahal, dalam surat al-Fatihah saja, sudah disebutkan ada jalan yang lurus (shirathal mustaqim), dan ada jalan orang-orang yang dimurkai Allah dan ada jalan orang-orang yang sesat. Begitu banyak ayat al-Quran yang menjelaskan, lengkap dengan ciri-cirinya, siapa yang disebut mukmin, siapa kafir, dan siapa munafik.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;">Kita tidak perlu menguraikan lebih jauh kekeliruan pemikiran dosen Ushuluddin UIN Jakarta ini. Sebab, disamping sangat kacau, juga sangat naif. Kita hanya patut mengajukan pertanyaan kepada keluarga dan pimpinan UIN Jakarta, jika Muhammad Ali menyebut kaum Yahudi, Nasrani, dan sebagainya ”saudara seiman”, bagaimana jika dia meninggal nanti, maka jenazahnya dikuburkan saja di pemakaman Yahudi atau Kristen? Atau jenazahnya ditaruh di bawah pohon sebagaimana tradisi satu agama suku di Indonesia?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;">Yang lebih menyedihkan adalah artikel berjudul ”Islam dan Pluralisme di Indonesia: Pandangan Sejarah”, ditulis oleh Ayang Utriza NWAY, seorang alumnus Fakultas Syariah UIN Jakarta, yang menyelesaikan masternya di Paris. Sebagaimana banyak penganut paham Pluralisme Agama, penulis ini juga menggunakan QS Al-Baqarah ayat 62 sebagai rujukan pendapatnya. Celakanya, dia mengutip pendapat Hamka dalam Tafsir al-Azhar secara serampangan, lalu membuat kesimpulan yang menyesatkan. Dia menulis dalam artikel ini:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;">”Buya Hamka dengan sangat mengagumkan menafsirkan ayat ini. Ia menulis ”Kesan pertama yang dibawa oleh ayat ini ialah perdamaian dan hidup berdampingan secara damai di antara pemeluk sekalian agama dan dunia ini [...]. Ayat ini sudah jelas menganjurkan persatuan agama, jangan agama dipertahankan sebagai golongan, melainkan hendaklah selalu menyiapkan jiwa mencari dengan otak dingin, manakah dia hakikat kebenaran. Iman kepada Allah dan Hari Akhirat, diikuti amal saleh. Kita tidak akan bertemu suatu ayat yang begini penuh dengan toleransi dan lapang dada, hanyalah dalam al-Qur’an. Suatu hal yang amat perlu dalam dunia modern.” Lebih jauh Buya Hamka mengutip hadits yang diriwayatkan dari Ibn Abi Hatim dari Salman al-Farisi yang bertanya kepada Rasulullah tentang agama mana yang paling benar dari semua agama yang pernah dimasuki olehnya: Majusi, Nasrani, dan Islam. Rasulullah menjawab dengan QS 2:62 tersebut.” (hal. 306-307).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;">Lalu, penulis yang juga peneliti di Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Universitas Paramadina ini, mengutip pendapat Hamka yang tidak setuju dengan pendapat Ibn Abbas bahwa QS 2:62 itu sudah dinasakh oleh QS 3:85.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;">”Buya Hamka menyatakan: ”Kalau dikatakan bahwa ayat ini dinasikhkan (dihapus) oleh ayat 85 surat Ali Imran itu, yang akan tumbuh ialah fanatik; mengakui diri Islam, walaupun tidak pernah mengamalkannya. Dan surga itu hanya dijamin untuk dia saja [...].”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;">Yang kemudian sangat sembrono dan tidak etis, adalah kesimpulan yang dibuat oleh penulis, bahwa:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;">”Ini berarti bahwa walaupun seseorang mengaku beragama Islam, yang hanya bermodalkan dua kalimat syahadat, tetapi tidak pernah menjalankan rukun Islam, maka ia tidak akan pernah mendapat ganjaran dari Allah, yaitu surga. Sebaliknya jika ada non-Muslim yang taat dan patuh menjalankan ajaran agamanya, walaupun tidak mengucapkan dua kalimat syahadat, maka dia akan mendapatkan ganjaran dari Allah: surga.” (hal. 307).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;">Sebenarnya, jika seorang peneliti dan penulis yang jujur dalam membaca penafsiran Hamka terhadap QS 2:62, pastilah tidak akan membuat kesimpulan seperti itu. Sebab, Hamka memang tidak menyimpulkan seperti itu. Dalam tafsirnya, Hamka menulis tentang hadits Ibn Abi Hatim sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;">”Telah meriwayatkan Ibnu Abi Hatim daripada Salman, berkata Salman, bahwasanya aku telah bertanya kepada Rasulullah s.a.w. dari hal pemeluk-pemeluk agama yang telah pernah aku masuki, lalu aku uraikan kepada beliau bagaimana cara sembahyang mereka masing-masing dan cara ibadah mereka masing-masing. Lalu aku minta kepada beliau manakah yang benar. Maka beliau jawablah pertanyaanku itu dengan ayat: Innalladzina amanu wal-ladzina hadu dan seterusnya itu.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;">Artinya ialah bahwa perlainan cara sembahyang atau cara ibadah adalah hal lumrah bagi berbagai ragam pemeluk agama, karena syariat berubah sebab perubahan zaman. Tetapi manusia tidak boleh membeku disatu tempat, dengan tidak mau menambah penyelidikannya, sehingga bertemu dengan hakikat yang sejati, lalu menyerah kepada Tuhan dengan sebulat hati. Menyerah dengan hati puas. Itulah dia Islam.” (Hamka, Tafsir Al-Azhar, Juzu’ I, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982) hal. 216).”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;">Hamka sangat menekankan bahwa makna ”iman sejati” adalah beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, dan beramal shalih. Jadi, formalitas Islam, atau ”mengaku-aku Islam” saja – tanpa diikuti dengan keyakinan yang mendalam dan amal shalih &#8212; memang tidak menjamin keselamatan di akhirat. Siapa pun akan setuju dengan kesimpulan Hamka ini. Tetapi, perlu dicatat, Hamka sama sekali tidak berpendapat, bahwa kaum Yahudi, Kristen, Shabiin, dan lain-lain, semuanya akan masuk surga, tanpa perlu masuk Islam dan beriman kepada Nabi Muhammad saw dan beriman kepada al-Quran. Hamka menulis:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;">”Beriman kepada Allah niscaya menyebabkan iman pula kepada segala wahyu yang diturunkan Allah kepada para RasulNya; tidak membeda-bedakan diantara satu Rasul dengan Rasul yang lain, percaya kepada keempat kitab yang diturunkan.” (Ibid, hal. 213).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;">Justru disinilah persolan bagi kaum Yahudi dan Kristen, karena mereka menolak kenabian Muhammad saw dan kebenaran al-Quran. Karena itu, dalam tafsirnya ini, Hamka juga mengutip hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan Imam Muslim:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;">”Berkata Rasulullah s.a.w.: Demi Allah, yang diriku ada dalam genggaman tanganNya, tidaklah mendengar dari hal aku ini seseorangpun dari ummat sekarang ini, Yahudi, dan tidak pula Nasrani, kemudian tidak mereka mau beriman kepadaku, melainkan masuklah dia ke dalam neraka.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;">Lalu, selanjutnya, Hamka menjelaskan makna hadits Rasul saw tersebut:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;">”Dengan hadits ini jelaslah bahwa kedatangan nabi Muhammad s.a.w. sebagai penutup sekalian Nabi (Khatimil Anbiyaa) membawa Al-Quran sebagai penutup sekalian Wahyu, bahwa kesatuan ummat manusia dengan kesatuan ajaran Allah digenap dan disempurnakan. Dan kedatangan Islam bukanlah sebagai musuh dari Yahudi dan tidak dari Nasrani, melainkan melanjutkan ajaran yang belum selesai. Maka, orang yang mengaku beriman kepada Allah, pasti tidak menolak kedatangan Nabi dan Rasul penutup itu dan tidak pula menolak Wahyu yang dia bawa. Yahudi dan Nasrani sudah sepatutnya terlebih dahulu percaya kepada kerasulan Muhammad apabila keterangan tentang diri beliau telah mereka terima. </span><span style="font-size:12pt;">Dan dengan demikian mereka namanya telah benar-benar menyerah (Muslim) kepada Tuhan. Tetapi kalau keterangan telah sampai, namun mereka menolak juga, niscaya nerakalah tempat mereka kelak. Sebab iman mereka kepada Allah tidak sempurna, mereka menolak kebenaran seorang daripada Nabi Allah.” (Ibid, hal. 217-218).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;">Inilah penafsiran Hamka tentang QS 2:62, yang telah dikutip dan disimpulkan secara keliru oleh peneliti Paramadina yang mengaku pernah kuliah pasca sarjana di Universitas Al-Azhar Kairo. Kita sangat menyesalkan cara-cara seperti ini, yang jauh dari etika ilmiah. Apalagi, buku ini dimaksudkan untuk mengenang orang yang disanjung-sanjung oleh kaum liberal sebagai salah satu ”cendekiawan terkemuka” di Indonesia. Kita gembira dengan banyaknya orang yang menulis tentang Hamka, tetapi kita berharap mereka jujur dan cermat dalam menulis. Pemikiran dan kiprah perjuangan Buya Hamka jelas amat sangat jauh bedanya dengan kaum Pluralis Agama yang menyatakan bahwa kaum Yahudi, Kristen, dan sebagainya, adalah ”saudara seiman” mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;">Jadi, kita memohon, jangan lagi menfitnah Buya Hamka! </span><span style="font-size:12pt;">Nanti bisa celaka di dunia dan Akhir Masa. </span><span style="font-size:12pt;">Wallahu A’lam. [Jakarta, 28 Desember 2007/www.hidayatullah.com]</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/adeputrawinata.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/adeputrawinata.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adeputrawinata.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adeputrawinata.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adeputrawinata.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adeputrawinata.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adeputrawinata.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adeputrawinata.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adeputrawinata.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adeputrawinata.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adeputrawinata.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adeputrawinata.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adeputrawinata.wordpress.com&blog=3242259&post=10&subd=adeputrawinata&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adeputrawinata.wordpress.com/2008/04/10/jangan-fitnah-buya-hamka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/80bd13d034d160365860c9293e8578f9?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Mahasiswa Untuk bangsa</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>